Diduga korban penipuan pajak di samsat Muarojambi capai 70 orang

0
113
Salah satu korban saat ditemui dipolsek sekernan, muarojambi

Jambinow.com, Muaro Jambi – Tindak pidana dugaan penipuan dan penggelapan pajak kendaraan bermotor pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Samsat Kabupaten Muaro Jambi akhirnya diadukan ke Polsek Sekernan. Neni (43), Warga RT  07 Kelurahan Sengeti,  Kecamatan Sekernan,  yang menjadi korban penipuan pajak kendaraan bernotor memilih melapor ke Polsek Sekernan pada Senin (28/1).

” Kami ke Polsek ini untuk melapor,  tapi belum bisa diterima karena masih ada berkas yang harus dilengkapi,” kata Neni,  saat ditanyai Jambinow.com di Polsek Sekernan, Senin (28/1)

Neni menjelaskan bahwa dirinya telah membayar pajak kendaraan roda empat miliknya pada 2018 lalu. Pada pekan lalu Neni kembali mendatangi Samsat Muaro Jambi untuk membayar pajak mobilnya yang telah jatuh tempo. Saat itulah dirinya mengetahui kalau pajak mobilnya tahun lalu ternyata belum dibayar. Padahal,  Neni sudah membayar dan telah menerima STNK yang baru dan pajaknya telah terbayar.

” Minggu lalu saya mau bayar pajak untuk tahun 2019, setelah dilihat di komputer pembayaran di tahun 2018 lalu tidak ada. Jadi mereka minta saya bayar lagi dua tahun sebesar Rp5.700.000. Padahal, di STNK saya sudah tertera notice ketetapan pembayaran pajaknya di tahun 2018. Tapi di tahun 2018 tidak ada pembayaran,” ujarnya.

Neni mengatakan pada 2018 lalu dirinya membayar pajak kendaraan miliknya sebesar Rp2.540.000. Yang menerima uang tersebut ketika itu seorang pegawai honor bernama Febi. Febi sendiri saat ini sudah tidak bekerja di Samsat Muaro Jambi lagi.

“Petugas yang menerima waktu itu atas nama Febi. Sekarang Febi itu sudah diberhentikan,” ujarnya.

Permasalahan ini sudah diadukan korban Neni kepada Kepala Samsat Muaro Jambi. Hanya saja Kepala Samsat malah terkesan lepas tangan dan meminta korban untuk mencari Febi atau melaporkannya ke penegak hukum.

” Makanya Kami datang ke Polsek ini. Menurut Kepala Samsat, sudah banyak juga korban yang mengalami kejadian yang sama seperti saya. Ada sekitar 70 kasus,” ujarnya.

Kanit Reskrim Polsek Sekernan IPDA Chandra Winata mengakui bahwa korban Neni bersama suaminya memang telah mendatangi Polsek Sekernan untuk melapor.  Namun,  pihaknya belum bisa menerima laporan itu karena korban tidak membawa berkas arsip notice pembayaran pajak.

” Tadi kita arahkan agar mereka ke Samsat Muaro Jambi untuk mengambil arsip pengurusan pajak tahun lalu,  selain itu kita minta juga mereka mengecek ke Samsat Provinsi.  Siapa tahu karena gangguan server,  pajak yang dibayar tidak terbaca,” kata Chandra Winata saat menjawab Jambinow.com.

Chandra menjelaskan jika nantinya di Kantor Samsat Muaro Jambi tidak ditemukan arsip pembayaran dan di Samsat Provinsi tidak tercantum pembayaran pajak,  maka Polsek Sekernan akan memutuskan untuk menerima laporan korban.

” Harus dipastikan dulu,  jangan sampai laporan itu mentah. Makanya kita minta korban untuk menelusuri dulu,” ujarnya.

Chandra sendiri melihat bahwa STNK milik korban Neni sebenarnya sama persis dengan STNK yang dikeluarkan Samsat. ” Indikasinya Aspal ( asli tapi palsu). Suratnya bisa saja diterbitkan tapi uang digelapkan, ” kata pria dengan pangkat balok satu ini.

Kepala Samsat Muarojambi, Zuhri mengakui telah menerima laporan dari korban Neni. Laporan yang sama bahkan hampir setiap hari masuk ke mejanya.

” Bisa dikatakan hampir setiap hari ada laporan,  kasusnya sama. Pajak sudah dibayar,  tapi tidak masuk,” katanya.

Zuhri mengaku tidak bisa memberikan solusi kepada para korban.  Dirinya mengarahkan agar masalah ini ditanyakan kepada oknum pelaku atau langsung melapor kepada penegak hukum.

” Kasus ini terjadi saat pak Fauzan menjabat kepala Samsat,  bukan pada masa saya,” katanya.(red)

LEAVE A REPLY